Perempuan yang Tidak Lagi Menunggu
Penulis: Maftuhah Dewi
Namanya Alya.
Dulu, ia terbiasa menunggu-nunggu kabar, menunggu kepastian, menunggu orang lain datang. Ia pikir, hidup harus punya sandaran. Tapi waktu pelan-pelan mengajarkannya hal lain, bahwa tak semua orang yang kamu harap akan tetap tinggal.
Suatu hari, saat semua orang pergi, Alya menatap bayangannya di cermin. Di sana, ia melihat seseorang yang masih berdiri lelah, tapi tidak runtuh. Dari situ, ia mulai belajar hal sederhana: “Kalau aku bisa bertahan sejauh ini sendirian, kenapa harus takut melangkah tanpa siapa-siapa?”. Sejak itu, Alya berhenti menunggu. Ia mulai bekerja keras, belajar hal baru, dan menghadapi hari-harinya tanpa mengeluh. Ia jatuh beberapa kali, tapi bangkit lagi. Ia menangis di malam-malam sunyi, tapi besok paginya tetap tersenyum.
Dia tidak lagi mencari orang yang bisa menemaninya, tapi membangun dirinya sampai ia pantas ditemani siapa pun atau bahkan, bahagia tanpa siapa pun. Kini, Alya dikenal sebagai perempuan yang kuat. Bukan karena hidupnya mudah, tapi karena ia memilih untuk tidak menyerah. Ia sadar, menjadi mandiri bukan berarti tidak butuh siapa pun tapi tahu bagaimana tetap berdiri ketika tak ada siapa pun.
