-->

Notification

×

Kategori Karya

Cari

Kumpulan Karya

Tag Terpopuler

Tepi Sawah dan Harapan Baru

Sabtu, 25 Oktober 2025 | Oktober 25, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-25T09:15:01Z

Tepi Sawah dan Harapan Baru

Penulis: Maftuhah Dewi

        Di sebuah desa dekat sawah, hujan bulan Oktober bukanlah hal yang asing. Dan setiap tahun, pada saat ini hujan bulanan mulai turun membasahi tanah kering dan menghidupkan kembali apa yang tampaknya sia-sia. Suara gemericik air hujan di sawah mengingatkan kita bahwa bahkan dengan kesulitan selalu ada pertumbuhan. Kamera menyorot pemandangan pedesaan, hingga akhirnya berhenti pada Dian, seorang pemuda desa yang termenung bersandar di tepi sawah yang luas. Sejak kecil, ia telah mendengar suara petani bekerja di sawah dan dapat mencium bau lumpur basah setiap kali hujan. Berada di bawah permukaan yang terasa familiar, sebuah perasaan terasa lebih dalam. Dian baru saja pulang dari kerja keras seharian yang terasa tak berujung. Hidup di desa kecil ini sederhana dan seringkali keras.

         “Apakah aku akan seperti ini seumur hidupku?” Dian bertanya-tanya, menatap hamparan sawah yang menguning. Hujan di sini agak terlambat tahun ini, tetapi harapan selalu muncul. Jika hujan turun, panen tahun ini mungkin lebih baik. Jika tidak, semuanya bisa sia-sia. Pikirannya melayang jauh, dan ia teringat pepatah ibunya tentang pantang menyerah. "Tak ada yang lebih baik belajar hidup selain di tepi sawah, Nak. Karena di sanalah kita belajar bahwa hidup itu seperti padi. ​​Terkadang yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu hujan tumbuh". Dian mengenang masa kecilnya, ibunya membawanya ke tepi sawah yang basah untuk menyaksikan bagaimana padi ditanam dan dipanen. "Mengapa padi harus menunggu hujan?" tanyanya saat itu. Ibunya memberinya jawaban bijak, "Hujan adalah kehidupan dan harapan dalam hidup kita. Terkadang kita harus menunggu lama dan ketika kita bersabar, hasilnya akan datang".

         Hari ini, saat gerimis turun, Dian kembali ke tepi sawah yang begitu dikenalnya sejak kecil. Ia duduk di atas batu besar di sudut sawah dan membiarkan mereka berdiri di sana menikmati hujan yang membasahi tanaman padi. ​​Rasanya setiap tetes hujan seolah memberi tahu kita untuk mengingat bahwa segala sesuatu membutuhkan waktu untuk tumbuh. Ia bertanya-tanya apakah ia telah menunggu cukup lama untuk mewujudkan mimpinya. Saat itulah Dian menemukan bahwa hidup itu seperti sawah. Ada kalanya kita harus menunggu dengan penuh harapan melewati musim yang tak terduga. Jika kita terus bekerja, seperti petani ini yang selalu menanam padi, hasilnya akan positif. Hujan yang mengguyur daerahnya Oktober ini lebih dari sekadar menyirami tanah; hujan itu memenuhi hatinya dengan harapan.

      Dian bangkit dengan semangat baru dan merentangkan kakinya untuk memandang sawah, menyerap semua yang telah jatuh. Ia mengerti bahwa, seperti padi yang tumbuh setelah hujan, ia harus terus tumbuh meskipun segala sesuatunya masih belum pasti. Tepi sawah telah berubah menjadi Simbol kekuatan dan ketangguhan, tempat ia menemukan inspirasi untuk terus berjuang. Oktober yang basah menjadi pelajaran bagi Dian bahwa dalam setiap perjalanan, betapa pun kecilnya waktu dan kesabaran yang dibutuhkan. Layaknya padi yang tumbuh lambat, ia juga harus menunggu dengan keyakinan dan harapan bahwa suatu hari nanti, ia akan menikmati buahnya.

×
Karya Terbaru Update